Jika membicarakan kain tradisional Jawa, lurik memiliki posisi yang unik.
Tidak seperti kain dengan motif gambar yang kompleks, lurik dikenal melalui garis dan susunan warna.
Kesederhanaannya justru membuat lurik memiliki identitas yang kuat.
Namun, sejarah lurik jauh lebih panjang daripada sekadar kain bergaris.
Awal Tradisi Lurik
Data Warisan Budaya Indonesia menyebut bahwa tenun lurik telah dikenal sejak masa Majapahit.
Jejak aktivitas menenun juga terdapat dalam relief Candi Borobudur.
Sementara Prasasti Raja Airlangga dari Jawa Timur tahun 1033 menyebut kain bernama tuluh watu, yang merupakan salah satu nama motif lurik tradisional.
Penelitian lain juga menyebut adanya bukti mengenai kain lurik dalam prasasti dan peninggalan arkeologis Jawa.
Lurik Bukan Hanya Garis
Banyak orang menganggap lurik selalu berupa garis vertikal.
Padahal lurik memiliki berbagai komposisi motif.
Ada garis yang tersusun vertikal.
Ada kombinasi horizontal.
Ada pola silang.
Ada kombinasi beberapa warna.
Karena itu, istilah lurik tidak seharusnya dipahami hanya sebagai “kain bergaris”.
Fungsi Lurik pada Masa Lalu
Pada masa lalu, lurik digunakan dalam berbagai kebutuhan.
Sebagai kebaya.
Sebagai kain panjang atau jarit.
Sebagai stagen.
Sebagai selendang.
Penelitian tentang fungsi lurik juga menunjukkan penggunaannya dalam berbagai kegiatan tradisional dan upacara daur hidup masyarakat Jawa.
Artinya, lurik memiliki fungsi praktis sekaligus budaya.
Lurik dan Filosofi
Beberapa motif lurik memiliki nama dan konteks simbolis tertentu.
Kain tradisional dalam masyarakat Jawa sering dikaitkan dengan harapan dan nilai kehidupan.
Karena itu, motif tidak selalu dibuat hanya untuk keindahan.
Ada cerita di baliknya.
Lurik Pedan
Salah satu pusat perkembangan lurik yang sangat penting berada di Pedan, Klaten.
Data Warisan Budaya Indonesia menyebut Lurik Klaten sebagai warisan budaya yang berkembang melalui tradisi tenun ATBM.
Pedan bahkan disebut sebagai cikal bakal penting perkembangan lurik Klaten.
Masa Keemasan Lurik Pedan
Periode 1950–1960 menjadi salah satu masa penting dalam perkembangan Lurik Pedan.
Pada periode tersebut terdapat sekitar 500 industri tenun rumahan dengan sekitar 10.000 tenaga kerja.
Lurik bukan hanya menjadi bagian dari budaya.
Ia menjadi sumber penghidupan.
Perubahan Teknologi
Perkembangan teknologi kemudian mengubah industri tenun.
Alat Tenun Mesin mulai berkembang.
Pada sekitar 1968, penggunaan ATBM mengalami tekanan akibat munculnya produksi tekstil menggunakan teknologi mesin.
Sebagian industri lurik kemudian beradaptasi.
Sebagian lainnya mengalami penurunan.
Namun tradisi ATBM tetap bertahan di beberapa wilayah.
Mengapa Lurik Bisa Bertahan?
Salah satu kekuatan lurik adalah kemampuannya beradaptasi.
Data Warisan Budaya Indonesia mencatat bahwa lurik Klaten mampu mengakomodasi unsur budaya luar, termasuk dalam kualitas warna, benang, manajemen, dan pemasaran.
Lurik kemudian tidak hanya digunakan untuk sandang.
Ia juga masuk ke fashion dan aksesori.
Lurik Pedan Hari Ini
Saat ini, nama Pedan masih sangat erat dengan lurik.
Lurik Prasojo menjadi salah satu nama yang memiliki sejarah panjang dalam industri tersebut.
Perjalanan dari produksi kain menuju fashion menunjukkan bahwa lurik dapat mengalami transformasi tanpa harus kehilangan identitasnya.
Lurik di Era Modern
Hari ini lurik dapat ditemukan dalam berbagai produk:
- Blazer
- Dress
- Kemeja
- Outer
- Rok
- Celana
- Tas
- Aksesori
Motif tradisional dapat dipadukan dengan siluet modern.
Masa Depan Lurik
Sejarah lurik memberikan satu pelajaran penting.
Sebuah tradisi dapat bertahan ketika terus digunakan.
Karena itu, masa depan lurik tidak hanya bergantung pada pelestarian motif lama.
Tetapi juga pada kemampuan menciptakan alasan baru bagi masyarakat untuk menggunakan lurik.
Dari kain tradisional.
Menjadi fashion.
Dari Pedan.
Menuju Indonesia.
Dan dari Indonesia.
Menuju dunia.


